Cerita Eksibisionis Ria Pacar Vino : 7 Permainan dalam Kisahku

“Haaah,,, akhirnya, capek juga ya,”
“Iya, ngantuk…”
“Eh, gimana? Seru nggak?”
“Iya Put, seru, lain kali lagi ya?” aku tak tahu kenapa kata itu spontan keluar dari mulutku
“Semangat banget kamu? Iya deh lain kali lagi”
Aku memang sudah mulai menikmati seperti itu, tapi rasa takutku lebih besar jika hanya aku sendiri, aku juga tak mungkin mengajak Vino memakai pakaian seksi hahahaha
“Udah, ganti baju sana, terus tidur”
“Iya Putri cerewet”
Aku mengganti mini dressku dengan tanktop, dan aku ingat kata-kata Vino agar tak mengenakan bra saat tidur, jadi aku sengaja tak mengenakannya, bawahannya aku memakai celana pendek longgar dan celana dalam tentunya, meskipun Vino juga melarangku memakai celana dalam saat tidur untuk mencegah keputihan, aku tetap memakainya karena agak risih.
Putri sudah berbaring di ranjang menggunakan bed cover sebagai selimutnya, aku menyusup kedalamnya dan merebahkan diri. Putri mendekat dan tiba-tiba memelukku erat
“Apaan sih Put??!!”
“Kamu kan udah janji ntar pelukannya diterusin lagi saat tidur? Hihihi”
“Oh iya deh, sini” aku mengiyakan, meskipun aku agak sulit bernafas, tapi biarlah, dia sahabatku
04.00, aku terbiasa bangun sepagi ini untuk menjalani rutinitasku, pelukan Putri tak kurasakan lagi, dia sudah agak jauh dari tempatku tidur, aku bangun dan masih membiarkannya. Aku masuk ke kamar mandi dan berendam di bathtub. Sekitar 15 menit aku keluar dan melihat Putri masih lelap, aku ke dapur dan menyiapkan masakan.
05.30 pagi makanan telah siap dimeja makan, aku berniat membangunkan sahabatku itu, kulihat ia tetap pada posisi seperti tadi. Langsung saja aku tarik bedcover yang menutupinya.
“Astaga!!!” aku teriak kecil, namun tak sampai membangunkan Putri
Aku terkejut karena mendapati putri dalam keadaan telanjang bulat dan tangan kanannya masih memegang vaginanya, ponselnya mati berada di sebelahnya
“Put…. Bangun Put”
“Hmm?”
“Hei, abis ngapain kamu?”
Ia tak menjawabku, hanya tersenyum dengan mata terpejam lalu menjilat tangannya yang baru dikeluarkan dari vaginanya
“Ngapain kamu Put?”
“Heemmmpphhh…. Enak Ri, tadi malem aku nggak tahan” ia perlahan bangun dan berdiri membuka jendela, hari masih cukup gelap
“Udah, pakai baju sana” kuakui, tubuh Putri memang bagus, pinggangnya kecil, pantatnya juga seksi, dan dadanya menambah daya tarik yang luar biasa.
“Iya, kok jadi kamu yang cerewet? Oh iya, maaf sama makasih ya…”
“Haa?? Maaf? Buat apa? Dan makasih buat apa?”
“Udahlah, makasih”
“Hei jawab!!!kenapa kamu”
“Hihihihi…. Dada kamu bagus ya? Makasih buat tadi malem, aku sebenernya mau ngajak kamu main bareng, tapi keliatannya kamu capek, pas aku pegang pegang, kok kamunya nggak bangun, jadi aku terusin deh, tapi bener, dada kamu bagus”
“Ha….. Apa????!!!!” Aku kaget bagai disambar petir, seorang perempuan menyentuh payudaraku?? “Apa-apaan kamu?”
“Kamu nggak suka ya?” raut mukanya memelas
“Emmm, bukannya nggak suka, tapi aku nggak pernah Put digituin sama cewek”
“Lho, jadi kalo sama cowok pernah? Oohh Vinoo… ternyata”
“Buu.. bukan gitu maksudnya”
“Alah udah deh ngaku aja”
Aku memang merahasiakan apapun yang kulakukan dengan Vino pada siapapun
“Engg…. Udahlah Put, gila kamu ya?”
“Hahahahaha, santai, aku jaga rahasia kok”
“Put!!!” aku membentaknya, raut wajahnya seketika itu berubah, selama kami bersahabat, baru kali ini aku membentaknya
“Kamu nggak suka ya?”
“Bukan gitu Put, aku suka kok” Aku salah bicara
“Beneran Ri? Jadi aku boleh gituin kamu lagi??” Raut mukanya kembali segar
“Engg…” belum sempat aku bicara ia menyelaku
“Makasih ya Ri!!!”
Aku tak tahu harus seperti apa lagi, tapi apa salahnya, toh aku juga tak berhubungan kelamin
“Iya, iya Putri, tapi ada syaratnya”
“Apa? Apa? Apa?”
“Lakuin saat aku tidur”
“Iya Ria sayaang, makasih yaa”
Haahh…. Lega rasanya bisa sedikit tuntas, meskipun aku tak ada nafsu dengannya, tapi apa salahnya aku membahagiakannya, aku juga tak berkurang sedikitpun
“Udah, ayo makan sana”
“Mau beli apa?”
“Nggak usah beli, aku udah masak Put”
“Beneran?? Makasih sayang, kamu sahabat terbaikku. Seketika itu ia memelukku, dalam keadaan masih telanjang, aku ulangi, masih telanjang. Dadanya menempel ke dadaku membuatku cukup risih.
“Udah pakai baju kamu! Aku tunggu di meja makan”
“OK”
Setelah kami makan, mandi dan ganti pakaian, Putri mengajakku pergi lagi. Saat itu aku memakai celana oren yang sangat pendek, aku bisa bilang celana dalam, karena panjangnya hanya sekitar satu jari dari vagina dan cukup longgar untuk melihat celana dalamku dari bawah. Atasnya aku memakai tanktop couple kuning dengan Putri yang baru saja diberikan olehnya, yang lucu ada gambar 3 lingkaran, dan yang 2 tepat pada posisi payudara dan dibelakang terdapat tulisan ‘good taste’ kata yang cukup ambigu, hahahaha
“Pantes kan?”
“Hahahaha, iya lucuu”
“Aku pesen khusus buat kita, dulu aku udah mau kasiin kamu, tapi aku takut kamu nggak suka pakaian yang agak terbuka gini. Eh pas tau kamu gini, yaudah deh, keturutan juga”
“Aku dulu emang nggak suka, nggak berani malah, tapi Vino yang suka terus nyuruh aku pake yang gini-gini”
“Seleranya tinggi tuh anak, iya deh ntar di motor kamu ceritain semua”
“Kita mau kemana sih?”
“Udah ikut aja”
Di sepeda motor, aku menceritakan tentang Vino, aku harus bangga punya dia, karena ia nggak seperti cowok pada umumnya, ia tak merokok apalagi minum, dia anak yang sopan dan cukup pintar, hanya nafsunya sangat besar, hahaha, tapi wajar untuk itu, daripada ia melakukan yang lain, lebih baik ia ‘melakukannya’ sama aku
Putri berhenti pada sebuah rumah, lalu memencet bel di gerbang, cowok seusia Vino muncul, tubuhnya tinggi tapi agak kurus, kulitnya putih dan rambutnya sedikit ikal, cukup tampan bagi ukuran seorang cowok, dengan celana training dan kaos oblong ia sedikit berlari membukakan gerbang besar yang berdiri dihadapan kami.
“Masuk Put…..” Ia terpaku, memandangi putri dari atas kebawah, putri memakai hotpant dengan motif sobek-sobek kecil dan dipadu tanktop couple kami
“Eh, malah bengong, kenapa San? Pakaian kita terlalu terbuka ya?”
“eng,,, enggak papa kok, seneng malah hehehe”
“Ihh kamu tuh, nakal ya.”
“Hehehe, kamu juga mau kan aku nakalin hehehe”
“Huh, iya deh nyerah”
“Emang takdirnya gitu” cowok itu melihat kearahku “Ini Ria?”
“Iya” jawabku sambil mengulurkan tangan untuk menyalaminya
“Sandi, cowoknya Putri” ia tersenyum manis, aku baru tahu kalau putri punya cowok
“Jadi nggak disuruh masuk nih?”
“Hahaha iya, kelupaan, ayo Put, ajak Ria masuk”
Rumahnya sederhana, tapi penataannya sangat bagus, kami diajak masuk kedalam dan disuruh duduk di ruang tamu lalu ia berjalan kebelakang
“Kamu kok nggak bilang aku kalo punya cowok?” aku berbisik ke Putri
“Sekarang tau kan?hahaha”
“Huuuh…” aku memukul sebal pundaknya
“Nih minum dulu” Sandi membawakan the botol dingin untuk kami
“Sepi beneran kan san?” Putri menanyakan hal yang sepertinya sudah diketahuinya
“Iya kok sayang, kenapa?”
“Ke kamar kamu yuk?”
Sandi melotot memberi isyarat lalu melirikku
“Ah, udahlah ajak aja” aku bingung apa yang mereka bicarakan
“Put? Beneran?”
“Iya sayang, Ria sahabat terbaikku kok, iya kan Ri?”
Aku hanya tersenyum
“Yaudah ayo” sandi menuntun Putri dan tangan putri menarikku, aku tak bisa menolak
Mereka masuk kamar dan duduk di ranjang, aku memilih duduk di lantai, kulihat mereka berciuman dan Sandi yang terlihat pendiam mulai nampak sisi liarnya, ia menindih badan Putri, dan menciuminya ganas, tangannya memegang erat payudara Putri, nafasku mulai terasa berat. Tiba-tiba Putri menghentikan aktivitas mereka
“Sini Ri, ikutan…”
Aku hanya tersenyum dan menggeleng kepala
“Beneran?”
“iya Put makasih, nonton aja deh, boleh kan?”
“Hahaha, iya Ri, sabar ya, ntar sama Vino puas-puasin deh”
Putri sekarang lebih ganas, ia mendorong badan sandi dan membaliknya, kini Putri ada diatas, ia membuka kaos sandi dan melorotkan celana sandi sekaligus dengan celana dalamnya. Sandi tak mau kalah, ia lalu mengangkat tanktop Putri dan melemparnya beserta bra besar yang awalnya menutupi dada putri. Tangannya dengan ganas meremas dan mulutnya menghisapnya dengan penuh nafsu
Setelah terlihat puas tangannya turun dan membuka hotpant dan celana dalamnya, dengan penuh nafsu melemparkan tubuh Putri ke ranjang dan mulai menghisap vagina Putri, ia masukkan 3 jarinya sekaligus dan mengulanginya berkali kali
Setelah beberapa saat, giliran putri yang mengulum penis Sandi, penisnya mengacung berwarna coklat tapi lebih panjang milik Vino, Putri mengulumnya dan mengocok sangat cepat, hanya sekitar 3 menit Sandi mengerang dan mendesah keras lahar putih membasahi wajah Putri, ia menjilati sisa yang ada di penis Sandi dan mengambil yang membasahi wajahnya dengan jari lalu diacungkan kepadaku
“Mau?”
Aku hanya tersenyum
“Yaudah…”
Putri mengarahkan tangannya pada mulut Sandi dan Sandi menelannya,
Mereka ‘bermain’ cukup lama badan Putri penuh dengan bekas sperma, setelah aku tanya, ternyata prinsip mereka sama denganku, mereka tak mau berhubungan antar kelamin sebelum menikah.
Sebelum berpakaian, Putri menyuruhku memotret tubuh bugil mereka, ada yang berdua dan ada yang sendiri, lalu aku boleh menyimpannya sebagai kenangan, namun harus disimpan dalam komputer dan diberi password
Kami kembali kerumah Putri sekitar pukul 14.00. kami beristirahat dan seperti sebelumnya Putri memainkanku saat aku tidur siang, haah, biarlah, demi sahabat
Malamnya kami tidur dalam posisi yang sama, dan pastinya Putri mengulanginya lagi. Dan karena esoknya aku akan pulang, Putri memelukku sangat erat, seakan tak mau melepaskanku.

Esoknya sebelum pulang, Putri memberiku beberapa celana pendek, katanya agar aku bisa menghibur Vino, aku diantar pulang dengan memakai baju yang aku gunakan berangkat, karena tak mungkin aku kerumah dengan pakaian terbuka, bisa-bisa nyawaku hilang melayang.

Tamat ?? Maybe
Share on Google Plus

About Tina Novianti

Tentang Tina Novianti

0 komentar:

Poskan Komentar