Cerita Eksibisionis Ria Pacar Vino : 6 Permainan dalam Kisahku

3 hari setelah itu, sahabatku datang kerumah, asalnya dari luar kota, sekitar 4 jam perjalanan. Namanya Putri, ia lebih tinggi sedikit dariku, ukuran dadanya juga lebih besar. Aku mengajaknya masuk ke kamarku
“Naik apa kamu?”
“Motor…”
“Ha? Sendirian?”
“Iyalah, capek nih”
“Udah, istirahat sana”
“Yah, baru juga dateng, suruh istirahat, kangen….”
“Hahahaha, aku juga kangen kamu” aku memeluknya “kemana aja nggak pernah keliatan?”
“Ya dirumah, nggak bisa sering keluar”
“Nah, gimana nggak bisa? Ini kan keluar juga. Jauh loh dari sana kesini”
“Iya Ria-ku sayang, bokap nyokap lagi ke semarang, 2 minggu. Berangkat tadi malem”
“Waah, pantesan bebas nih. Nginep sini ya?”
“Yaah, tujuanku bukan gitu, aku mau ngajak kamu kerumah, kalo kamu nggak aku
jemput pasti nggak bakalan mau, iya kan?”
Saat itu tepat libur seminggu lebih, aku lupa tepatnya karena apa
“Hahahaha, masih inget aja kebiasaanku, kapan kita berangkat?”
“Emang mau nunggu apa?”
“Jadi? Sekarang?”
“Iyalah, udah, kemasin sana barang-barang kamu”
Aku mengambil ransel besar diatas lemari, sedikit apek karena sudah lama tak terpakai. Kuletakkan di lantai dan aku membuka lemariku, aku keluarkan beberapa tumpuk untuk dipilah di luar agar lebih mudah, aku mengambil beberapa tanktop, kaos dan kemeja. Setelah itu giliran tumpukan celana yang aku keluarkan dan kupilah.
“Lho, kamu juga suka hotpant Ri?”
“Hmm, kadang aja sih, kenapa?”
“Nggak papa, bawa aja itu sama semua celana pendekmu, itu aja cukup kok”
“Gila ya? Nggak mau ah”
Setelah beberapa saat memilah pakaian, aku keluar untuk minta izin orang tuaku
“Bentar ya put, aku izin dulu”
“Iya Ri, cepet ya”
“Iya… cerewet”
Singkat kata, mamaku mengizinkan aku pergi dengan putri, karena putri sudah cukup lama akrab dengan keluargaku, jadi beliau percaya
Sekitar 5 jam kami menempuh perjalanan, saat itu jam sudah menunjukkan pukul 4 sore kami sampai dengan selamat. Rumahnya di daerah perumahan sehingga jalan depan rumah sangat sepi, cukup besar, dangan halaman yang luas.
Asap kenalpot menempel pekat di pakaian kami. Tapi kami memilih untuk istirahat lebih dulu, putri mengajakku ke kamarnya. Aku melemparkan tubuhku ke springbed dan meregangkan otot-ototku, putri menyusul setelah melepas jaketnya yang berbau menyengat, melompat ke sampingku
“Ri, masih kangeen”
“Hahahaha, kamu tuh, udah ketemu masih juga kangen”
“Kamu kan sahabat terbaikku… peluk dong”
“Iya Put, kamu juga sahabat terbaikku, sini”
Kami berpelukan dalam posisi berbaring, andai ada orang tiba-tiba masuk dan melihat kami, mungkin kami akan dikira seorang lesbian.
“Udah cukup, ntar waktu tidur lagi” ucapnya menyudahi pelukan kami
“Iya, ntar puas-puasin deh, hahahaha”
“Bener ya?”
“Iyaaaa”
“Makasiih, mau minum apa Ri? Aku bikinin, pembantuku pulang, anaknya sakit”
“Lho, terus? Kamu sendirian?”
“Iya lah, makanya aku ajak kamu”
Ia berlalu tanpa menunggu jawabanku tentang minuman, lalu kembali dengan membawa dua gelas minuman kuning, jus jeruk
“Nih minum, aku mau mandi dulu”
“Makasih, yaudah mandi sana, gantian”
Ia masuk kamar mandi yang ada dalam kamarnya. Aku memilih untuk berbaring, memanjakan punggungku yang lelah. Aku sudah bilang Vino kalau akan pergi kerumah Putri untuk beberapa hari, dan ia mengizinkan, jadi aku bisa tenang dan bisa puas menikmati liburanku.
Putri keluar dengan melilitkan handuk di tubuhnya, lalu berjalan ke lemari besar miliknya
“Udah, mandi sana”
“Bentar capeek”
“Cepet mandi! Bauuuu”
“Hahhh, iya iya… dasar.. cerewet!!!”
Aku masuk kamar mandi, dan mulai membuka pakaianku, memang baunya sangat menyengat, aku melemparkannya begitu saja ke lantai dan mulai membasuh tubuhku dengan air dingin. Segar, lega rasanya, setelah menghirup udara penuh asap selama berjam-jam kini ditutup dengan bilasan air dingin yang menyegarkan.
Sekitar 15 menit aku mandi dan melilitkan handuk putih ke tubuhku, lalu keluar dan mencari ranselku, aku membukanya dan sangat terkejut, hanya ada pakaian dalam, tanktop, hotpant, dan celana sporty super pendek yang tersisa, lainnya lenyap, pantas ranselku jadi ringan selama perjalanan. Aku keluar kamar dan mencari putri
“Puuut!!! Putriii!!!” Aku teriak dari depan kamarnya
“Kenapa Ri?!!! Aku di dapur”
“Hei, kamu udah ngeluarin semua pakaianku ya? Gila kamu!!!!”
“Ahh, tenang aja deh “ jawabnya singkat “Tunggu, bentar lagi kelar kok”
Tak lama, putri datang ke kamar, membawa 2 piring mie instan, dan yang membuatku terkejut, pakaiannya. Ia mengenakan kemben dan celana boxer super pendek, longgar lagi. Padahal aku belum pernah melihatnya seperti ini.
“Put, sejak kapan kamu berani gini?”
“Gini apa?”
“Pakaian kamu”
“Oooh, udah lama sih, dari dulu aku sering pakai gini, tapi dulu masih malu kalau dilihat orang, inipun aku sembunyikan dari orangtuaku”
“Eh, pakaianku kamu kemanain?”
“Hahahaha, aku balikin, disini panas, pakai aja yang gitu, beban kamu jadi berkurang kan?”
“Iya sih, tapi nggak papa kan? Kalo mau keluar gimana?” aku masih agak ragu, karena kalau dikampungku, aku keluar pakai pakaian begitu pasti heboh
“Nggak papa lah, tetangga aja nggak ada yang kenal. Udah, lepas tuh handuk, ganti baju sana!”
Aku mengambil pakaianku dan membawanya masuk ke kamar mandi dan memakainya, celana sporty tipis super pendek berwarna ungu gelap dengan tanktop hitam yang agak kebesaran.
“Nah, gitu dong, seksi banget kamu”
“Iya, tapi masih belum biasa”
“Ah, udah, biasain aja”
Kami makan mie instan lalu ngobrol sampai jam 7 malam, lelah seperti hilang
“Ri, mau coba sesuatu nggak?”
“Ha? Apaan?”
“Udah ngikut aja” Putri berjalan ke lemari mengambil sebuah mini dress spaghetti coklat yang panjangnya hanya sampai setengah paha dan memberikannya padaku
“Buat apa?”
“Udah pakai aja”
“Nggak ah”
“Udahlah Ri, pasti seru, aku jamin, tapi celana kamu juga lepas”
Aku menurut dan pergi ke kamar mandi lalu keluar dengan canggung, kulihat putri sudah mengenakan mini dress juga berwarna putih, bagian dadanya terlihat sangat menonjol
“Nih bawa” ia menyodorkan tas tangan padaku
“Buat apaan sih?”
“Udah ikut aja” ia turun dan aku hanya mengikutinya, ia masuk garasi dan mengeluarkan matic putih lalu menyuruhku naik. Aku bingung harus duduk seperti apa
“Jangan duduk menyamping, nggak seimbang”
“Hah! Cerewet bener sih kamu”
“Udahlah, nurut aja, seru kok”
Ia menjalankan motornya cukup cepat, aku berkali-kali harus membenarkan dressku yang pendek ini, berkali-kali celana dalamku terlihat, untungnya malam, jadi cukup gelap. Ia berhenti di mall dan memarkir kendaraannya
“Ngapain kita kesini?”
“Udahlah Ri, ikut aja”
Ia berjalan masuk dan menuju eskalator dengan santai, beberapa pemuda di belakang sepertinya membicarakan kami dengan keadaan pakaian kami yang seperti ini, namun aku heran, nafasku jadi berat dan sepertinya aku mulai menikmatinya
“Gimana Ri? Udah ngrasain?”
“Gila kamu, pantesan betah”
“Seru kan?”
“Iya sih, kalau aku ketagihan gimana? Hahaha”
“Kesini aja, kita lakuin lagi hahaha, tapi ini belum mulai loh”
“Haa! Belum?”
Ia mengajakku ke café dalam mall, tempat duduknya menggunakan shofa dan ia memesan 2 milkshake coklat
“Disini kita mulai”
“Caranya?”
“Lihat ya”
Shofa kecil itu membuat posisi lutut kami lebih tinggi, Putri menyilangkan kakinya, sehingga dressnya terangkat sampai hampir terlihat celana dalamnya, setiap orang yang lewat pasti melirik kearahnya, bahkan ada yang meminta duduk bersama kami namun kami menolaknya. Berkali-kali ia mengganti posisi kakinya, sehingga celana dalamya sering juga terlihat. Ketika milkshake kami sudah siap dan diantar mas-mas berusia sekitar 23 tahunan, Putri semakin menjadi, ia menjatuhkan nomor meja ke sebelah kaki mas-mas itu, lalu ia merunduk untuk mengambilnya, belahan dada lebarnya sedikit menggantung, dan aku tau mas-mas itu mencuri pandang kearah Putri, entah ke dada atau paha, karena mini dress itu sangat pendek bawahnya, saat ia merunduk otomatis bagian bawahnya juga terangkat. Cowok ini terlihat salah tingkah, celananya membesar tepat dibawah perutnya, aku tersenyum kecil padanya dan ia pun bergegas pergi.
“Gimana Ri? Berani nggak kamu?”
“Jadi kamu nantang nih? Hahaha”
“Nggak juga sih kalo dibilang nantang, tapi ngajak kerjasama,hahahaha”
“Hahahahaha, ok kalo gitu, kita pindah tempat sekarang, aku maunya outdoor”
“Ok Ri….”
Setelah meminta billnya dan membayar, Putri mengajakku ke taman depan Mall, cukup ramai namun terlihat indah karena lampu-lampu berjajar menghiasi. Kami berjalan bergandengan tangan, melihat-lihat keindahan kota malam hari, namun herannya tak ada sepasang matapun yang memandang kami, apa penampilan kami tidak menarik atau apa.
Di depan kami ada penjual kerajinan tangan dari berbagai macam bahan, penjualnya meletakkannya di atas anyaman bambu yang terlihat indah, kesan alaminya masih benar-benar nampak, penjualnya cowok usia kuliah, berkacamata. Disini aku tertarik untuk beraksi, aku ajak Putri melihat-lihat, kami berdiri tepat di depan cowok penjual itu.
“Silahkan mbak dilihat-lihat”
“Iya mas makasih” jawabku, rupanya cowok ini cukup sopan “Bikin sendiri mas?” tambahku sambil jongkok pelan-pelan. Cowok itu mengalihkan pandangannya sebentar lalu kembali malihat mataku.
“Iya mbak, temen-temen kampus kerja bareng bikin ini semua”
Putri rupanya tak mau kalah, ia mengikutiku jongkok tepat di depan cowok itu
“Apaan sih Ri?”
“Ini Put, masnya bikin ini semua sama temen-temennya, keren kan?”
“Iiiihh, lucuu. Yang ini berapa mas?” Putri mengangkat sebuah globe ukir kecil yang terbuat dari kayu
“Eee….eee… 25 ribu mbak, itu asli bikinan tangan loh” jawabnya dengan sedikit gugup
Aku yang semula duduk serong ke kiri memutar posisi dudukku untuk melihat ke sebelah kanan, kubuka kaki kananku sengaja untuk menampakkan sedikit celana dalamku pada cowok ini lalu segera kaki kiriku menyusul menutup rapat pada kaki kananku. Cowok itu semakin gugup melihatku, nafasnya terlihat berat. Namun belum berakhir sampai disini, Putri tidak mau kalah denganku, ia berniat mengambil barang yang letaknya agak jauh, sehingga ia harus menjangkaunya dengan posisi seperti merangkak, lagi-lagi, belahan dadanya menggantung memperlihatkan belahan dadanya yang besar, cowok itu sangat salah tingkah, ia berkali-kali membenarkan posisi duduknya
“Gimana menurutmu?” Putri menunjukkan gantungan kunci berberntuk tongkat baseball
“Aku lebih suka yang tadi”
“Yang mana?”
“Globe kecil tadi, kayaknya prosesnya lebih rumit”
“Iya deh. Udah mas, globe itu aja, berapa mas?”
“25 ribu mbak” dengan nada yang masih terdengar gugup
“bentar ya mas” Putri membuka tasnya, dan berpura-pura lupa tentang posisi duduknya, ia membuka kakinya sedikit lebar, dan pastinya celana dalamnya terlihat jelas oleh cowok itu. Putri memperlama pencariannya dengan alasan bingung mencari uangnya yang tadi berserakan, raut wajah cowok itu seperti ketakutan atau entah apa, yang jelas ia sangat gugup
“Nah, ketemu, ini mas, pas ya?”
“Ii…. Iiya mbak, makasih ya mbak”
“sama-sama mas”
“Makasih mas” aku menambahi dan mengajak putri pergi, sebagai penutup, aku menunduk dan pasti dadaku tarlihat jelas olehnya, setelah kami berbalik, aku membenarkan sepatuku dengan merunduk, yang pasti ia dapat melihat pantatku yang hanya tertutup celana dalam dengan jelas. Aku kembali berdiri dan membenarkan mini dressku lalu berjalan pergi.

Pertunjukan kami masih terus berlanjut sampai pukul 22.00. setelah itu kami kembali kerumah Putri.
Share on Google Plus

About Tina Novianti

Tentang Tina Novianti

0 komentar:

Poskan Komentar