Cerita Eksibisionis Ria Pacar Vino : 5 Permainan dalam Kisahku

Suatu ketika, aku main kerumah Vino, seperti biasa kami hanya berdua, karena orangtuanya sibuk bekerja, dan sudah menjadi rutinitas jika ada ciuman di setiap sela pembicaraan. Tapi, waktu itu Vino tiba-tiba meraba-raba tubuhku, aku hanya diam. Saat itu aku mengenakan seragamku, masih lengkap dengan tas yang belum kulepas.
“Sayang, emutin dong” pintanya manja, sambil menuntun tanganku menuju kemaluannya. Setelah itu membimbing aku agar berlutut didepannya dan melepas tasku
“Kamu nggak pake celana dalem?”
“Hehehehe, nggak sayang, Cuma celana pendek aja, mau liat?”
“Iiihhh kamu, iya udah sini” aku melihat dia melepas sabuknya dan melorotkan celana seragamnya lalu menunjukkan celana pendeknya diteruskan dengan mengeluarkan penisnya, jantungku berdebar dan nafasku sepertinya terasa berat.
“Nih sayang” tangannya menuntun tanganku mengocok penis panjangnya. Selang beberapa menit, dia menarik kepalaku, isyarat perintah mengulum penis itu, aku mengulumnya parlahan dan sedikit kusedot. Tangannya membuka kancing seragamku satupersatu, mengangkat tanktopku yang cukup ketat dan membuka kaitan braku, talinya sengaja ia lepas pada sambungannya sehingga ia dengan mudah menariknya
Putingku dimainkannya perlahan, membuat aku lemas dan sering tidak begitu konsentrasi untuk mengulum penisnya, jadi sering berhenti sejenak. Tangan kirinya tetap memainkan putingku yang semakin mengeras, namun tangan kanannya naik untuk memegang kepalaku dan mendorongnya agar aku memasukkan penisnya lebih dalam,penisnya yang cukup panjang tak mampu masuk penuh dalam mulutku, tapi dorongan tangannya semakin membuatku bernafsu.
Bibirku terasa lelah, aku bilang pada Vino untuk berhenti sejenak, ia mengabulkannya. Ia menyuruhku duduk disebelahnya dan memelukku erat dengan satu tangan yang menyusup berpegangan pada buah dadaku, namun penisnya masih basah dan masih berdiri keras. Aku bersandar di pundaknya dengan tetap mengelus penis kekasihku ini. Aku sayang dia, aku ingin memberikan segalanya untuk dia, seandainya saat ini dia memintaku memasukkan penisnya dalam vaginaku, sepertinya aku takkan menolak, tapi aku percaya dia tak akan seperti itu.
Tangannya yang memelukku kini perlahan bergeser kebawah, membuka resleting rokku dan menyusup dalam celana dalamku, menggosoknya perlahan, naik turun. Rasanya sangat geli, tapi aku tak bisa mencegahnya, nikmatnya tak bisa kugambarkan
“Ohhhh…… sayangg……”
“Kenapa sayang?” dia menatapku lugu dan hanya tersenyum namun tangannya masih meneruskan aksinya
Aku tak bisa berkata lagi, ia menurunkan rok seragamku begitu juga celana dalamnya dan menarikku untuk duduk diatasnya, penisnya tergesek pahaku, cairan bening menggores panjang, aku mengelapnya dengan jariku, kuberikan jari itu ke mulut Vino, ia tak banyak pikir langsung mengulumnya, lalu kemudian jarinya dikeluarkan dari vaginaku, dalam keadaan basah, aku disuruhnya mengulum jari tengahnya yang basah dengan cairanku sendiri, dan jari telunjuknya dia kulum sendiri. Rasanya gurih dan sedikit asin, tapi aku menyukainya.
Penisnya menempel di perutku, ia menarik pinggangku mendekat, rokku sedikit menghalangi, tapi tak apalah, kedua tangannya kembali meraba payudaraku dan bibir kami saling beradu. Basah oleh liur, ia menjilati kedua payudaraku, aku digerak-gerakkannya naik turun supaya perutku menggesek penisnya.
Dia menarik badanku untuk merebah, dan menindih badanku. Celananya dilepaskan dan dilemparkan sembarang, rokku tak luput juga dilemparkan, baju dan tanktopku dilepas semua, aku telanjang, benar-benar telanjang. Entah, rasa malu sudah tak aku rasakan. Aku ingin memberikan servis penuh pada kekasihku, aku pasrah, layaknya sebuah hidangan matang yang siap disantap habis.
Kami berpelukan sangat lama, dia diatasku dan aku ditindihnya bagai kasur empuk yang punya dua gundukan. Lalu ia menyuruhku duduk dan dia berlutut dibawahku, dengan liarnya ia membuka lebar kakiku, menyantap hidangan berbulu tipis dengan penuh nafsu, menusuk dengan jari dan lidahnya. Menjilatinya sampai tenagaku terkuras. Lalu ia berdiri dan berjalan menuju kamarnya lalu langsung keluar dengan membawa sesuatu, permem mint
Ia memberiku dan ia juga memakannya, lalu ia meneruskan aktivitasnya, ia menjilati dengan semangat, yang mengejutkanku ternyata ia masukkan permen itu kedalam vaginaku, oohhhh, sejuk bercampur aneh.
“Sayang, rasanya gimana?”
“Di….dii..dingin say..”
“Tapi oralnya jadi lebih seru”
“Iya, tapi jangan lama-lama ya”
“Iya sayang”
Selang beberapa menit, ia masukkan jari-jarinya untuk mengambil perman itu. Keluar dalam keadaan basah, namun ia tetap memakannya
Setelah cukup lama, aku ditariknya lagi untuk mengulum penisnya, dituntun kepalaku maju mundur sampai berkali-kali aku tersedak. Beberapa menit kemudian ia menekan kuat kepalaku dan cairan kental asin meleleh di kerongkonganku
“Telan say..” ia berbisik pelan
Aku hanya berusaha menelan, cairannya makin banyak dan bertambah banyak, ia mencabut penisnya dan spermanya masih cukup banyak di mulutku. Ia menarik wajahku dan mencium bibirku, ia menghisap sperma yang ada di mulutku lalu memberikannya lagi padaku berulang-ulang, dan akhirnya ia memberiku setengah untuk ditelan dan setengahnya lagi ia telan sendiri
“Makasih sayang, biar sama-sama ngrasain”
“Iya sayang, asiin nih”
“Hahahaha, iya, ntar kamu kalo sering ngemut juga biasa kok”
Aku hanya tersenyum lalu memeluknya
Tak terasa sekitar 3 jam berlalu, aku herus segera pulang
“Sayang, aku harus cepat pulang nih”
“Iya sayang, makasih ya sevisnya, bayar berapa nih? Hahahaha”
“Ah, buat kamu gratis deh sayang, kalau buat orang lain baru bayar. Hahahaha” jawabku bercanda “Sayang, celana dalamku basah nih, gimana?”
“Ohh, santai, kamu pakai aja boxerku, mau kan?”
“Boleh kan?”
“Pakai aja sayang”
Vino punya banyak celana pendek, dan kebanyakan malah sangat pendek, dia suka memakai celana seperti itu di rumah, kadang malah penisnya sampai keluar dari lubang kakinya karena terlalu pendek dan karena ia tidak mengenakan celana dalam. Tapi itu ia kenakan saat sedang sendiri. Beberapa boxer itu ada beberapa yang belum ia cuci setelah ia gunakan untuk menampung sperma hasil onaninya, dan ia menyuruhku mengambil salah satunya. Aku mengambil salah satu yang pendek dan mengenakannya perlahan setelah memakai celana dalam, baunya khas sperma kering.
“Say, bra kamu tinggalin sini aja, aku pinjem ya?”
“Buat apa?”
“Yah, kamu tau lah”
“Hahaha iya sayang. Bawa aja”
“Makasih”

Setelah itu Vino mengantarku pulang, dan sampai di kamar, aku menyimpan boxer Vino di lemariku, tanpa ku cuci. [email protected]
Share on Google Plus

About Tina Novianti

Tentang Tina Novianti

0 komentar:

Posting Komentar