Cerita Eksibisionis Ria Pacar Vino : 4 Permainan dalam Kisahku

Sekitar 2 minggu kemudian, kami janjian pergi lari pagi di daerah yang jauh dari rumah, agar aku bebas mengenakan pakaian apapun. Dan tentunya, aku juga meminta Vino mengenakan pakaian yang aku ingin, kami akan jogging jadi dia tetap kusuruh memakai celana dalamnya, dan aku memintanya memakai kaos dilapisi jaket dan celana panjang tipis.
Seletah berlari sekitar 2 jam, kami pergi sarapan di kaki lima, memang kami tak terlalu menginginkan tempat makan elit, asalkan enak dan halal, kami suka.
Disinilah balasdendamku berlangsung, aku meminta Vino melepas celana dalamnya, entah apa yang membuatnya langsung menurutiku. Saat yang sama dengan dia ke kamar mandi, akupun melakukan hal serupa, pergi ke kamar mandi dan melepas bra dan celana dalamku, yang kugunakan saat itu hanya tanktop tipis biru dan sporty short pant hitam, yang panjangnya mungkin seperempat pahaku, sekitar sejengkal, yang jelas hanya cukup menutupi pantat dan sedikit paha.
Aku kembali lebih dulu daripada Vino, tetap saja, beberapa orang memperhatikanku terus, tapi aku merasa tenang, karena masih banyak cewek yang memakai pakaian minim, tapi jika di hitung, hanya ada dua yang super minim, aku dan gadis berbaju kuning, yang putingnya sangat jelas tercetak di bajunya, dan sepertinya ia tak mengenakan celana, hanya bajunya yang menutupinya, tapi ia bersama beberapa teman ceweknya. Temannya juga berpakaian terbuka, namun tak seperti cewek baju kuning itu, mereka mengenakan rok sporty pendek pastinya, dan juga tanktop, tapi ada salah satu diantara mereka yang mengenakan kaos lengan panjang
Saat Vino datang, sepertinya ia tak mengetahui perubahanku, aku biarkan saja dia. kulihat saat ia berjalan penisnya tercetak jelas sekali. Sengaja aku menggodanya, saat ia berdiri, aku mendekat dan menempelkan payudaraku padanya
“Sayang, aku mau minum jus tomat dong”
“Iya sayang” dia setengah terkejut, lalu menunduk, dengan tingginya yang lebih dari aku, dia pasti melihat payudaraku dari atas tanktopku yang belahannya lebar “Kamu nggak pakai bra?” bisiknya
“Ah, males sayang, buat apa? Celana dalam aja males” godaku
“Jadi kamu nggak pakai daleman?” tanyanya sambil meraba pantatku, memastikan aku benar-benar tak memakai celana dalam. Saat ia sudah yakin, aku merunduk, dan kulihat celana pendeknya sekarang makin maju, dan aku yakin dia sedang ereksi, semakin lama, semakin jelas terlihat, aku hanya tersenyum, berharap gadis-gadis melihat besarnya penis kekasihku ini, dan aku bisa membanggakannya. Selesai membayar makan, aku mengajak Vino ke tempat penjual minuman, aku sengaja jalan memutar melewati kelompok anak muda yang bergerombol menikmati lagu yang diputar dengan ekspresi sekenanya, saat itu aku melihat raut wajah Vino sangat berbeda, tapi aku yakin dia juga akan terbiasa. Di depan kami kerumunan cewek-cewek sangat padat, aku sengaja mengajak Vino melewatinya, dan pastinya penisnya akan tergesek-gesek dengan mereka, apalagi pakaian mereka aku yakin makin merangsang Vino, tapi itu yang membuatku semangat, aku harus jadi yang terbaik untuk dia.

Beberapa cewek menunduk dan sengaja melihat penis Vino, sepertinya Vino sudah bisa menikmatinya, beberapa kali penis itu menyentuh pantat gadis-gadis itu, bahkan sempat tersentuh oleh tangan, aku memang cemburu, tapi aku merasa menikmatinya, aku harus bisa jadi yang terbaik, dan hanya aku yang harusnya bisa membuat Vino terangsang.
Share on Google Plus

About Tina Novianti

Tentang Tina Novianti

0 komentar:

Poskan Komentar