Cerita Eksibisionis Ria Pacar Vino : 3 Permainan dalam Kisahku

Suatu saat Vino mengajakku bepergian ke daerah pegunungan. Aku mengenakan celana skinnyku dengan atasan kemeja tanpa lengan yang lekuk pinggangnya sangat memperlihatkan keseksianku. Daerah ini sejuk dan membuatku sedikit kedinginan, disana banyak menyewakan villa, entah apa yang terbesit pada benak kami, yang jelas kami setuju untuk menyewa satu kamar
“Terus, ngapain kita disini?” tanyaku
“Santai aja sayang, sini istirahat sama aku” Vino memelukku di ranjang, pelukannya hangat, rasanya tak ingin kehilangan dia
Aku mengganti-ganti channel Tv, tapi tak ada yang menarik
“Say, bosen….” Keluhku
“Sini dong, peluk aku”
Aku merapat ke pelukan Vino, hangat dan nyaman. Tangannya perlahan meraba tubuhku, perlahan naik ke dadaku dan ohhhh dia meremas semangat, aku merasakan sekali kenikmatan ini, aku tak kuasa menahan diriku, kulumat bibirnya dan dia juga membalasnya. Tangannya menyusup masuk pada kemejaku dan menerobos bra ku, ‘glek’ dia menyentuhnya, langsung. Ohhh….. aku semakin lemas, beberapa saat kemudian ia mengeluarkan tangannya
“Say, inget dulu janjiku?”
“Janji apa?” tanyaku berlagak lupa
“Ini” tangannya menuntun tanganku memegang gundukan di celananya
“Hahahaha iya sayang, sini keluarin”
“Nih, habisin deh”
Aku langsung memegangnya dan mengocoknya seperti yang ia ajarkan dulu, tapi sering ia benarkan gerakanku yang kadang tak karuan
“Say, aku buka sekalian ya celanaku”
“Iya deh say”
Ia membuka celananya, namun kaosnya juga ia lepaskan
“Nanggung say, hehehe”
Aku pertama kali melihatnya telanjang bulat seperti ini, tubuhnya padat berisi, sedikit berkeringat namun aku semakin bernafsu melihatnya
“Kamu juga buka dong”
“Apanya?”
“Semua lah sayang”
Tanpa menunggu aku menjawab, ia menarikku dan menarik paksa kemejaku hingga dua kancingnya terlepas, lalu sedikit kesulitan melepas celanaku yang sangat ketat. Bra dan cdku pun tak luput dari serangannya, hingga kami berdua benar-benar dalam satu kata, telanjang
Aku memeluk pundakku, berusaha menutupi dua gunung yang menyembul, perasaan malu masih menyelimuti, menghilangkan ingatanku tentang bagian bawahku yang seharusnya juga aku tutupi.
“Udahlah say, buka aja, buat apa malu?”
“Belum biasa sayangku, pake selimut yuk?”
“Iya deh, sini” ia menarik selimut tebal yang sudah disediakan
Aku lebih percaya diri dalam selimut, aku berani memeluknya, dan meraba ‘milik’nya, berani menempelkan payudaraku ke dadanya, hangat dan sensasinya luar biasa
Vino memutar badannya dan menaikiku, ia menindihku dan menciumku, tangannya mendarat di atas dua gunungku, aku pun mencakar-cakar punggungnya dan menjambak rambutnya, sebuah ekspresi kenikmatan. Perlahan tangannya mulai turun kearah perut dan diteruskannya ke antara dua kakiku, merabanya dengan penuh nafsu
“Say, masukin sini ya?”
“Ha… apanya? Burung?? Nggak mau ah”
“Bukan sayang, jari aja”
“Sakit nggak?”
“Nggak tau lah, coba aja”
“He’em” aku mengiyakan sekenanya, aku percaya dia
Dalam kondisi seperti inipun aku tak mau berhubungan suami istri, aku sadar belum waktunya. Aku percayakan dia memasukkan jarinya, karena aku berpikir akan tetap perawan meskipun selaputdaraku robek, karena aku belum pernah memasukkan penis laki-laki kedalamnya.
Vaginaku mulai basah, ia mengelus perlahan, dan mencoba menembus lubang kecilku, sedikit sakit, tapi aku juga merasa nikmat, bibirnya terus menciumiku, menikmati hidangan di atas ranjang yang memang kusediakan untuk dia. Jarinya perlahan menembus masuk, sakitnya semakin menjadi
“Aahhhh, sakkiiittt…..” aku merintih pelan
“Sabar ya sayang, terusin apa nggak nih?”
“Terusin aja say, sekalian, nanggung” kataku sambil mencengkeram bantal dibawahku
“Iya sayang, sabar ya”
“Aaaaarrrrggghhhhhh” sakit kali ini berkali lebih sakit, perih bercampur rasa aneh, aku memeluk Vino tapi melarangnya mengeluarkan jarinya
“Terusin say”
“Kamu sakit gitu”
“Nggak papa! Terussiiinnn!” kataku sambil merintih
Aku tak tau harus apa lagi, setelah itu aku mengajak vino ke kamar mandi, ingin membasuh vaginaku yang terasa sangat sakit. Aku siram dan merabanya, ada bercak merah sedikit, mungkin itulah darah keperawananku, aku tersenyum pada Vino, aku bahagia, aku melakukannya dengan cinta. Sedihpun tertutup kebahagiaanku memiliki Vino, aku sayang dia
Penis besar yang mengacung sejak tadi sampai tak aku hiraukan, aku memegangnya dan mengocoknya sambil bersimpuh di depannya, sesekali aku masukkan ke mulutku, aku sangat menikmatinya
“Hmmmmmhhhh” Vino terlihat menikmatinya, “Masukin lagi say, maju mundurin hhhmmmpppphhh”
Sekitar 15 menit aku merasakan sesuatu hangat keluar, dan semakin banyak, asin dan sangat kental, aneh. Terpaksa aku berlari dan memuntahkannya, aku tak kuat merasakannya.
“Hah, say, asin, kamu keluar ya?”
“Hehehe iya sayang, kok nggak kamu telan aja?”
“Nggak kuat say, maaf ya, aku belum biasa, suatu saat nanti aku abisin deh buat kamu”
“Iya sayang, kita balik yuk, istirahat dulu, lemes nih”
“Iya sayang”
Vino menggendongku ke ranjang, menidurkanku dan menyelimutiku, lalu ia masuk menyusup kedalamnya, dan memelukku dengan mata terpejam. Aku memandangnya bahagia, dan mencium keningnya lalu memeluknya, sengaja aku tempelkan payudaraku padanya.
Hampir dua jam kami tertidur, saat aku bangun, aku merasa sesuatu yang mengganjal di vaginaku, ternyata Vino sudah bangun dan ‘mengerjaiku’
“Hehehe say, nggak sakit kan kalau waktu tidur?”
“Nggak kok sayang” aku tersenyum
“Duduk sini” aku bergerak duduk di tepi ranjang
“Buka kaki kamu sayang” aku masih bingung apa yang akan dia lakukan “Sekarang aku mau membayar kenikmatan yang tadi”
“Mau apa kamu sayang?”
“Udahlah say” Vino menenggelamkan kepalanya diantara dua kakiku, dan membuka vaginaku dengan kedua jarinya, lidahnya menyusuri vaginaku, aku merasa petir menyambarku, aku tak kuasa menahan diriku, aku memegang apapun yang dapat kupegang. Rambut Vino kujambak keras
“Nggak papa kan say aku tarik rambut kamu?”
Vino tak menjawabku dengan suara, dia hanya mengangguk, sepertinya ia sangat menikmati, sesekali ia masukkan jarinya. aku merasa sangat lemas, sekitar 20 menit ia terus melakukannya, hingga aku tergeletak di tepi ranjang
Kami tertidur lagi beberapa puluh menit, setelah itu kami memutuskan untuk pulang, kulihat beberapa kancing atas kemejaku terlepas, tapi tetap aku pakai, daripada aku pulang hanya dengan bra.
Sepanjang jalan aku bingung menutupi belahan dadaku yang terlihat, tapi aku merasakan kenikmatan tersendiri jika ada orang yang melihat dan tertarik padaku, tapi malu masih juga menghalangiku
Kami pergi ke tempat berkumpulnya pedagang kaki lima, kami memilih satu tempat, untuk makan.
Beberapa mata nakal masih sempat mencuri pandang kearahku, aku berusaha cuek dan menikmatinya, bra hitamku kadang sedikit terlihat
“Say, berani nggak?”
“Berani apa say?”
“Lepas bra kamu” dia setengah berbisik
“Ha, disini?”
“Ya nggak lah, ke kamar mandi sana”
“Hmmm gimana ya?”
“Ayolah sayang, please”
“Iya deh sayang, tunggu sini ya”
Aku berjalan menuju kamar mandi, disana aku melepas braku dan kumasukkan dalam ranselku, aku memang suka membawa ransel saat pergi keluar, sama seperti Vino dan memang penampilanku cenderung ke sporty daripada anggun. Keluar kamar mandi, aku melihat sekelompok anak muda, yang memandang kearahku, kelihatannya penampilanku terlalu menonjol, bagaimana tidak, kemeja tanpa lengan tanpa kancing atas ditambah lagi tanpa apa-apa lagi didalamnya. Mereka terpaku melihatku, aku risih dengan tatapan mereka, aku mempercepat lagkahku ke tempat
Vino duduk.
“Udah sayang, keliatan?”
“Iya sayang, bagus, makasih ya sayang”
“Sama-sama sayang”
Pulangnya aku mengenakan jaketku, aku tak mau orang rumah berkomentar apa-apa, jangankan payudaraku terlihat, aku memakai baju tanpa lenganpun tak terbiasa, tapi kalau keluar, semua akan kulakukan, asal itu bersama Vino

Malamnya terjadi seperti malam-malam biasa, kami ‘ML’ seperti biasa, dan resikonya, aku meminta Vino meminum sendiri spermanya.
Share on Google Plus

About Tina Novianti

Tentang Tina Novianti

0 komentar:

Poskan Komentar